Archive for April, 2008

Nasionalis Pemuda Indonesia

Posted in Life on April 20, 2008 by diannisa

Sebuah Syair Perjuangan

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan dilembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Apa itu Autisme ?

Posted in Autism & Kids on April 20, 2008 by diannisa

Autisme kini sudah menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Autisme di Indonesia kurang mendapat perhatian. Padahal sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Ini seperti bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan masyarakat bawah tidak mendapat penanganan yang baik.

Data yang muncul di beberapa media menyebutkan bahwa pada tahun 1987 rasio jumlah orang dengan autisme adalah 1: 5.000. Pada tahun 2007 di AS menurut laporan Center for Disease Control memiliki rasio autisme 1:150 (di antara 150 anak, ada satu anak autisme). Sementara di Inggris sendiri disebutkan rasionya yaitu 1:100. Dari data yang sudah muncul di beberapa media terlihat semakin lama semakin tinggi orang dengan autisme. Apa itu autisme?
Autisme bukan penyakit jadi jangan disebut penderita atau penyandang karena memang disandang seumur hidup. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan. Bedanya dengan penyakit adalah kalau penyakit ada virusnya, ada kumannya, ada jamurnya. Sedangkan autisme tidak ada. Jadi tidak ada obatnya juga.

Gejalanya adalah gangguan perkembangan yang menyangkut perkembangan komunikasi dua arah, kemudian interaksi sosial yang timbal balik, dan perilaku. Yang nomor satu kelihatan adalah anak ini tidak bisa berbicara. Walaupun sudah waktunya bicara masih belum bisa bicara. Itu yang biasanya membawa orang tua ke dokter. Mengapa anak saya sudah 2,5 tahun belum bisa bicara? Kalau dokternya mengerti maka akan langsung waspada lalu periksa yang lain-lain. Tapi kalau dokternya tidak mengerti kadang-kadang diremehkan, seperti mengatakan, “Tidak apa-apa, biasa anak laki itu bicaranya terlambat, keponakan saya empat tahun baru bisa bicara juga sudah jadi profesor sekarang.” Jadi orangtuanya terlena. Beda antara anak autisme dan tidak adalah kalau anak terlambat bicara saja maka dia akan berusaha komunikasi dengan bahasa Tarzan. Jadi dia terlambat komunikasi verbal. Tapi secara non verbal dia berusaha komunikasi dengan mimik muka, dengan gerak gerik. Sedangkan anak autisme tidak.

Perilakunya terlihat sekali aneh-aneh. Dia melakukan hal-hal yang aneh berulang-ulang. Misalnya, dia sering berputar-putar, dia sering memutari benda yang bulat dan senang sekali. Kalau sudah berhasil kemudian melompat-lompat sambil mengepak-ngepakkan tangan. Kemudian ada juga yang suka duduk di pojok, atau hanya main pasir, atau ada yang senangnya main air, dan ada yang mendorong-dorong terus bolak-balik.

Terapinya harus sangat-sangat intensif, sangat komprehensif, dan macam-macam. Pertama, mereka tidak bisa berbicara maka harus mendapatkan terapi bicara. Kemudian lucunya anak ini ototnya kuat. Jadi bisa lari dan kalau memukul orang bukan main kerasnya. Tapi disuruh pegang pensil, tangannya lemas. Jadi seolah-olah tidak mempunyai tenaga. Otot-otot halusnya tidak terampil sehingga mereka harus mandapatkan terapi okupasi untuk melenturkan otot-otot halusnya dan dipersiapkan supaya bisa memegang pensil, bisa menulis, dan sebagainya. Selain itu, karena mereka memiliki perilaku yang aneh-aneh, maka harus terapi perilaku. Jadi perilaku yang tidak wajar dihilangkan, diganti dengan perilaku yang wajar. Itu yang dari luar. Kemudian ada juga yang keseimbangannya tidak bagus atau panca inderanya ada gangguan. Nah itu perlu diterapi juga, namanya terapi integrasi sensoris. Disuruh merosot di perosotan, diglondongin di bola besar, diayun-ayun, dan sebagainya. Itu terapi-terapi dari luar.
Dari dalam tubuh sendiri juga harus diterapi, dicari dengan laboratorium atau periksa darah apakah anak ini mempunyai gangguan alergi atau tidak? Kebanyakan mereka mempunyai alergi makanan yang sangat banyak. Kalau ketahuan, hilangkan. Kemudian rambutnya diperiksa, apakah anak ini keracunan logam berat atau tidak? Kalau keracunan didetoks atau dikeluarkan logam beratnya.

Kalau keluarganya mau melakukan terapi bisa juga. Dalam hal ini sebetulnya anak juga mengerti. Kalau di terapi center, dia menurut dengan gurunya. Namun saat terapi dilakukan oleh orang tuanya di rumah, dia sama sekali tidak mau seperti mengerti siapa yang harus dituruti. Jadi orang tua kesulitan kecuali sangat tegas, sangat konsisten dalam disiplin sehingga anak menjadi menurut.

Apa itu Posmodernisme?

Posted in Communications on April 20, 2008 by diannisa

SEJARAH POSMODERNISME

Dunia saat ini sedang bergejolak, khususnya dalam bidang filsafat, ilmu, seni dan kebudayaan. Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, serta cara berpikir modern. Modernisme dianggap sudah usang dan harus diganti dengan paradigma baru yaitu posmodernisme.

Posmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern (yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan). Posmodern ingin memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang penyiaran. Posmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, posmodern menganggap media yang ada saat ini hanya berkutat pada masalah yang sama dan saling meniru satu sama lain.

PENGERTIAN POSMODERNISME

“Posmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijuntung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional. Dengan demikian, posmodern secara umum adalah proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang” (Jean Baudrillard dalam buku Dr. Munir Fuady,2005)

“Posmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, Liberalisme, Marxisme, dan lain-lain. Posmodern dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya” (Jean Francois Lyotard dalam buku Dr. Munir Fuady,2005)

CIRI POSMODERN

Menurut Sallie McFague dalam buku Dr. Munir Fuady,2005 mengatakan bahwa ciri dari posmodern adalah :

· Menginginkan penghargaan besar terhadap alam.

· Menekankan pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia.

· Mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi.

· Menerima tantangan agama lain terhadap agama dominant.

· Menerima dan peka terhadap agama baru.

· Menggeser dominasi kulit putih di dunia barat.

· Mendorong kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas sosial yang tersisihkan.

· Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat terpikirkan.

Salah satu ciri dari posmodern yang telah disebutkan diatas adalah mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, dan teknologi, ini berarti menunjukan adanya suatu ketidak pedulian lagi dari para ilmuan terhadap pengetahuan dan ini akan menyebabkan adanya krisis pada masa depan pengetahuan didunia ini, oleh karena itu kami tertarik dan ingin membahas masalah tersebut.

Salah satu hal yang paling inspiratif bagi Posmodernisme adalah memang sikapnya dalam memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan” itu, terutama Pengetahuan Sosial. Ia memperkarakan tentang “Apa itu pengetahuan” secara genealogis dan arkeologis; artinya, dengan melacak bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan mengembangkan diri selama ini Kategori-kategon konseptual macam “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”, dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan, yang membawa mekanisme-mekanisme dan aparatus kekuasaan; kekuasaan untuk “mendefinisikan” siapa kita. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan adalah agen-agen kekuasaan itu. Dan kendati kekuasaan itu tidak selalu negatif-repressif melainkan juga positif-produktif (menciptakan kemampuan dan peluang baru), toh secara umum ia memaksa kita memahami kemodernan bukan lagi sebagai pembebasan, melainkan sebagai proses kian intensif dan ekstensifnya pengawasan (surveillance), lewat “penormalan”, regulasi dan disiplin.

Akan tetapi kita juga jangan lupa, pada zaman posmodern etika sebagai sebuah dinamika peradaban ia pun masih pantas untuk dipertanyakan lagi keberadaannya. Karena di zaman posmodern ini etika sudah mulai ditinggalkan oleh para kaum ilmuan, teknisi maupun kaum intelektual yang pada dasarnya memahami keberadaan etika: Seperti halnya pembuatan bukti yang pada prinsifnya hanya bagian dari proses argumentasi yang dirancang untuk mendapat persetujuan dari para penerima pesan ilmiah, dimana tujuannya tidak lagi kebenaran, tetapi performativitas, yang kemungkinan terbaik dalam persamaan input/output. Negara atau perusahaan harus membebaskan narasi legitimasi kaum idialis untuk membenarkan tujuan baru : didalam diskursus dukungan keuangan bagi peneliti dewasa ini, satu satunya tujuan yang dapat dipercaya adalah kekuasaan. Contohnya adalah para ilmuan, kaum teknisi dan instrument pada zaman sekarang yang dibeli bukan untuk menemukan kebenaran, tetapi untuk memperbesar kekuasaan mereka sang penguasa, dan ini menunjukan telah hilangnya etika di kalangan para ilmuan.

Dan hal diatas didukung dengan anggapan bahwa manusia sekarang mengutamakan mencari uang, dan sudah jarang ada orang yang bersedia memikirkan sejumlah persoalan. Dan hal ini merupakan duka cita manusia: sejumlah besar ilmuwan sekarang terlalu hanyut pada prestasi ilmu pengetahuan yang telah dicapai, namun kehilangan keberanian untuk menyelidiki dunia spiritual yang belum diketahui, ada yang mempertahankan teori yang telah ada tapi menolak menerima kenyataan objektif, ada yang bahkan ikut serta dalam politik, menjadi alat di tangan negarawan. Hal ini merupakan dukanya ilmu pengetahuan.

Apa itu Representasi Sosial?

Posted in Communications on April 20, 2008 by diannisa

Istilah representasi sosial mengacu pada produk dan proses yang menandai pemikiran pada masyarakat awam (diambil dari kata common sense dan untuk selanjutnya akan disebutsebagai pikiran awam), suatu bentuk pemikiran praktis, secara sosial dielaborasi, ditandai oleh suatu gaya dan logika khas, dan dianut oleh para anggota sebuah kelompok sosial atau budaya. Sejak paruh kedua abad XX opini umum menempati posisi penting di antara obyek-obyek ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yang diakibatkan oleh sejumlah aliran pemikiran yang searah dalam bidang antropologi, sejarah, psikologi, psikoanalisis, sosiologi, dan baru-baru ini, dalam ilmu-ilmu kognitif, filsafat bahasa dan nalar.

Kajian representasi sosial dalam psikologi sosial diajukan oleh Mocsovici untuk melihat pikiran awam dalam pengalaman keseharian. Dalam « Psikoanalisa, Citra dan Publiknya » (Psychanalise, son image et son public), sebuah karya yang berpusat pada pengetahuan sosial dan studi tentang keterkaitan antara ilmu danpikiran awam, Moscovici mengambil konsep Durheim «yang terlupakan » tentang representasi kolektif, yang lebih
sering disebut representasi sosial, untuk menjelaskan berfungsinya pikiran awam dalam masyarakat kontemporer yang berbeda dengan masyarakat tradisional oleh karena ide-ide yang lebih bersifat pluralisme, peka terhadap perubahan, pergerakan sosial, otonomisasi aktor-aktor sosial dalam hubungannya dengan kendala sosial, penetrasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehar-hari, dan pentingnya komunikasi.

Dari representasi ke representasi sosial. Representasi adalah sebuah fenomena yang, dalam bentuk-bentuk yang berbeda (peristiwa mental, pernyataan verbal, gambar, suara, dll), memperlihatkan sebuah ciri simbolis yang menggantikan obyek itu sendiri, dan dimana obyek itu bisa berasal dari dunia materi, peristiwa, manusia, sosial, ide, dan imajiner.
Penyebutan representasi dalam ilmu-ilmu humaniora saat ini memiliki status yang lintas-ilmu dengan berbagai pemakaian. Tradisi filsafat dan psikologi membedakan antara representasi sebagai aktivitas
berpikir dan representasi sebagai produk/hasil dari aktivitas berpikir tersebut. Ilmu-ilmu sosial memperlakukan hasil yang terbentuk, « produk mental sosial » (Durkheim), yang dianalisis dalam bentuk -bentuknya (sistem kepercayaan, ideologi, teori tentang dunia, masyarakat, dan manusia, dll.) dan fungsi-fungsinya dalam kehidupan sosial ; antropologi memberi tekanan pada fungsi konstitutif hubungan-hubungan sosial, sebagai dasar karakterisasi tingkatan-tingkatan sosial (Augé, Godelier) ; sosiologi melihat faktor transformasi sosial, sumber dari sikap politik dan keagamaan (Bordieu, Maître, Michelat & Simon); sejarah mengambilnya sebagai obyek penelitian yang paling utama dalam
pendekatan mentalitas dan sensibilitas (Chartier, Corbin), menjamin terutama mediasi antara organisasi material dan sistem-sistem ideologi (Duby), atau antara praktik, pembentukan hubungan sosial dan simbolisasi identitas (Lepetit). Ilmu-ilmu kognitif berkaitan dengan proses aktivitas kognitif yang, melalui perlakuan terhadap informasi (terutama perseptif), memberi ruang bagi representasi mental antarindividu. Ciri « sosial » hanya muncul pada aktivitas kognitif yang diterapkan pada obyek yang benar-benar bersifat sosial (individu, kelompok, relasi sosial). Pendekatan psikososiologis pada representasi sosial mengintegrasikan dua sudut pandang tersebut, karena menjelaskan baik proses maupun isi pengetahuan dengan menghubungkannya dengan kondisi dan konteks sosial yang menghasilkan representasi dan tempat dikomunikasikannya representasi, serta tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam hubungan dengan lingkungan materi, manusia, dan simbolis.

Representasi sosial mereproduksi obyeknya dengan mentransformasikannya dengan tanpa mengabaikan faktor-faktor psikologis (yang berkaitan dengan fungsi kognitif atau psikis) dan faktor-faktor sosial (terkait dengan komunikasi, intersubyektivitas, keanggotaan dalam kelompok, letak dalam ranah sosial dan sistem hubungan sosial). Dalam perspektif ini elemen-elemen afektif dan emosial yang mengartikulasikan kandungan ide sama-sama diperhitungkan, termasuk psikoanalisis, dengan menempatkan kembali representasi di dalam proses psikis dan intersubyektivitas (Green). Teori representasi sosial. Teori yang dikembangkan oleh Moscovici ini memiliki beberapa tujuan, yakni mempelajari hubungan yang terjadi antara pikiran awal atau pengetahuan yang bersifat opini umum dan pengetahuan keilmuan ; menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial ; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan
pengalaman sosial yang berfungsi untuk mengarahkan perilaku, berkomunikasi dalamdinamika sosial.
Paradigma utama merujuk pada dua proses besar pembentukan representasi sosial : obyektivasi (objectification) yang menjelaskan intervensi kelompok-kelompok sosial (norma, nilai, kode, dll, yang ikut campur sebagai meta-sistem yang mengatur proses kognitif) serta kendala-kendala komunikasi dalam penyeleksian dan pengaturan unsur-unsur representasi di satu pihak, dan pengakaran (anchoring) yang menjelaskan pengintegrasian informasi-informasi baru ke dalam sistem pengetahuan dan pemaknaan yang sudah ada, di lain pihak. Proses itu menjelaskan juga cara elemen-elemen tersebut diperkenalkan kembali,
sebagai instrumen operasional, dalam interpretasi terhadap situasi dunia dan dalam interaksi
dengan orang lain.
Paradigma ini juga menyediakan instrumen konseptual untuk analisis representasi sosial seperti hasil yang terbentuk, maksudnya pengaturan isi (yang merupakan ide, imajinasi, dan simbol), dikenali dalam berbagai pendukung (produksi diskursus atau ikon, peralatan materi, dan praktik secara individual atau kolektif) dan/atau yang beredar dalam masyarakat, melalui berbagai saluran komunikasi (percakapan, media, dan institusi). Di dalamnya ada tiga dimensi (informasi, sikap, dan ranah representasi, yang mencakup
gambaran, ekspresi nilai-nilai, kepercayaan, dan opini, dll). Dalam hal pembentukan isi yang berhubungan dengan komunikasi sosial yang langsung, 3 faktor (penyebaran dan kesenjangan informasi yang bisa berupa penundaan atau ketidakberfokusan, tekanan dalam inferensi seperti berkesimpulan sendiri bagi penutur, serta kepentingan penutur dan implikasinya pada komunikasi) akan mempengaruhi aspek-aspek kognitif dalam representasi dan membedakan pemikiran awam dalam pola penalarannya, logikanya, dan gayanya. Dalam hal komunikasi media terjadi efek-efek yang disebabkan oleh upaya untuk menarik perhatian publik, akan secara berbeda-beda mempengaruhi pembentukan sikap dan perilaku: dan propaganda yang bersifat stereotip. Perkembangan terakhir teori Moscovici, menekankan pembedaan antara tipe-tipe pemikiran (magis, ilmiah, ideologis); peran thêmata, struktur-struktur biner yang mapan, yang mendukung pembentukan representasi-representasi baru; dasar subyektif dari representasi sosial dan cara menarik pengikut yang menjadi obyeknya pada saat representasi sosial telah berakar di dalam sejarah kebudayaan dalam bentuk kepercayaan.

Model-model sosio-psikologi representasi sosial. Dengan dasar itu, berbagai model interpretasi berkembang berdasarkan perspektifnya (genetis, strukturalis, atau dinamis), yang diadopsi dan disesuaikan dengan metodologi pendekatan, kualitatif dan kuantitatif, spesifik (Abric, Doise, Flament, Guimelli, Jodelet, Markova, Rouquette). Perspektif genetis memberi tekanan pada kondisi kemunculan dan transformasi representasi sosial, dengan menyesuaikan isi dan organisasinya sebagai ranah yang terstruktur, pada kondisi sosial produksinya dan pada modalitas komunikasi sosial. Perspektif struktural berkaitan dengan deskripsi isi dalam bentuk situasi-situasi yang tercipta dari unsur-unsur utama dan pelengkap. Unsur-unsur utama berperan sebagai pembangkit pemaknaan keseluruhan representasi dan mengisi fungsi penyatu dan stabilisator unsur-unsur pelengkap. Perspektif ini juga mengkaji aspek logis dari organisasi tersebut. Persepektif dinamis meletakkan bingkai referensi umum dalam sebuah sistem komunikasi dan hubungan simbolis tertentu, dan menjelaskan eksistensi keanekaan dalam pengambilan posisi individual oleh intervensi representasi sosial, berdasarkan prinsip-prinsip pengatur. Aspek lain dalam dinamika representasi sosial dikaitkan dengan karakter dialogis yang berhubungan dengan komunikasi sosial.
Kritik dan pengembangan. Meski mempunyai posisi sentral dalam ilmu humaniora, representasi dan representasi sosial mendapat kritik dalam soal realisme yang diajukannya, dan utamanya dalam memperdebatkan model-model mental serta prerogatif yang diberikan pada diskursus. Kritik ini hanya menyentuh sedikit perspektif kajian representasi sosial yang melekatkan peran penting pada bahasa dan komunikasi dalam pembentukan representasi, dengan dasar konstruksi sosial yang bertumpu pada realitas. Representasi sosial tidak mempengaruhi produksi ranah penelitian ini, yang ditandai oleh keterlibatan internasional dan jumlah terbitan (lebih dari 3.000 dalam berbagai bahasa) yang berkaitan dengannya.

*Diterjemahkan dari « Le Dictionnaire des Sciences Humaines », Paris, PUF, 2006,
« Representation Sociales » oleh Denise Jodelet