Posmodernisme2

Postmodernisme: apaan tuh?

Begitu banyak hal yang dapat dikatakan sebagai postmodern, mencari suatu keajegan mengenai konsep ini adalah suatu hal yang meragukan, konsep ini merupakan suatu contested concept yang dapat berarti apa saja, kapan, dan dimana saja. Sebagaimana secara lugas diungkapkan dalam novel ini,

“sepertinya tak ada seorang pun yang saling sepakat satu sama lain tentang     apapun… Setiap orang diseputar meja itu, yang semua posmodernis menceritakan kisah yang berbeda.” (Berger:83: 2006).

Sangat jarang kita dapat mencari keterkaitan antar satu pemikir postmodern dengan yang lain. Kita dapat melihat pemikiran Derrida mengenai dekonstruksi yang memberikan kebebasan penuh terhadap pembaca untuk mengartikan teks yang dia baca, dalam bahasanya interpretation of interpretation. Berbeda dengan Derrida, Foucault menggagas mengenai  power knowledge yang meruntuhkan dan menguak hubungan pengetahuan dengan kekusaan vis a vis.

Hal tersebut terjadi karena pemahaman kita yang masih terbatas mengenai postmodern. Contoh diatas hanyalah postmodern dalam bagian yang tidak utuh. Postmodern sebagai postmodernisme adalah empat hal pada satu waktu yang bersamaan (Berger: 32: 2006). Hal tersebut antara lain, (1) urutan pergerakan historis dari Perang Dunia II hingga saat ini; (2) bentuk multinasional dari kapitalisme mutakhir; (3) gerakan seni rupa, arsitektur, sinema, musik pop; (4) teoritisasi penulisan postpositivis yang interpretatif dan kritis. Postmodern berusaha hadir ke tengah-tengah kita karena penentangannya atas modernitas hal ini diyakini dikarenakan sesungguhnya masyarakat saat ini telah melewati fase modern dengan representasi-representasi pengganti yang sungguh-sungguh dihayati.

Postmodern mempertontonkan suatu bentuk kejahilan, keisengan, dan ekletisisme baru yang terwujud dalam banyak karya maupun pemikiran. Dimana semua usahanya ditujukan untuk melabrak batas-batas logika modern untuk diganti dengan ironi, kolase, sinisme, komersialisme, dan nihilisme.3 Bagi saya postmodernisme merupakan suatu “kecemasan” di tengah dunia yang gila dalam artian untuk menggugat, mengkritik, dan menikmati dunia baru yang mereka ciptakan sendiri.

Temukan postmodernisme di sekitar kita

Permulaan dari postmodernisme berawal dengan hilangnya keyakinan terhadap mimpi modernisme. Modernisme adalah cara pandang yang muncul selama masa pencerahan, keyakinan terhadap ilmu dan metodologi dapat menjelaskan berbagai hal menyangkut kehidupan manusia. Ditandai dengan ketidakpercayaan terhadap metanarasi dalam banyak bidang keilmuan dan kehidupan manusia. Metanarasi secara etimologi adalah suatu narasi  mengenai narasi atau latar belakang citra-dunia, berdasarkan klaim atau keyakinan tertentu yang dibenarkan dan diberi nilai untuk dilegitimasi atau ditolak.

Lalu, bila demikian apa saja yang dapat menjadi ciri dari Postmodernisme dalam keseharian. Dalam novel ini terdapat beberapa hal atau kegiatan yang termasuk ke dalam postmodern:

  • cara menonton televisi dengan mengganti saluran dengan remote.

  • perselingkuhan sebagai penentangan terhadap institusi yang mengikat.

  • film yang penuturannya bersifat story telling.

  • (demam) belanja (shopping) yang kehilangan fungsi utamanya.

  • melakukan kegiatan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan atau multitask activities; misal membaca koran sambil makan dan menonton TV.

  • lukisan-lukisan yang abstrak imajiner (dadaisme; surealisme), gambar yang telah di-retouch dengan corell atau adobe.

  • novel, karya sastra, cerpen yang tidak memiliki alur cerita linier atau ending yang ‘ngegantung’ dan minimalis.

  • keraguan atas otoritas dan krisis legitimasi, munculnya egoisme ekstrim yaitu individualisme.

  • munculnya gugatan tentang cinta yang penting adalah seks.

  • munculnya gugatan yang dianggap sebagai penyimpangan (gay, lesbian, agama, tuhan, dll).

  • lingkungan yang menghadirkan beton-beton setinggi langit disekitar pemukiman kumuh dan sisa masa lalu.

Sadarkah kita tentang apa yang sedang terjadi saat ini, pernakah kita memikirkannya hingga saat ini, atau kita sudah menjalaninya namun membiarkannya berjalan seakan hal tersebut sifatnya given.

Penggunaan postmodernisme

Pada awalnya oleh penerbit Berger diminta untuk membuat komik tentang postmodernisme. Namun ia menemukan hal tersebut terlalu sempit tidak bisa dijelajahi secara luas, sehingga ia memiliki ide untuk membuat suatu novel misteri. Dengan tetap menyertakan ilustrasi di setiap bab dalam novel ini.

Alasan Berger memasukan posmodernisme dalam novelnya tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai professor American Cultural Studies serta media dan komunikasi. American Cultural Studies memiliki pengaruh yang besar dari pemikiran postmodernisme, salah satunya Lyotard (pemikiran Lyotard muncul lebih dari tiga kali dalam novel ini). Dalam hal ini postmodernisme digunakan Berger untuk membantu dalam melihat perkembangan gaya hidup yang terjadi di Amerika Serikat. Dimana masyarakatnya mulai clueless tentang diri dan kehidupan mereka atau lebih tepatnya tidak peduli. Terutama dengan segala kaitannya dengan kekuasaan yang menekan dan menindas.

Dalam novel ini Berger mencoba memasukan beberapa pendapat penting mengenai postmodernisme guna memperkenalkan dan menambah pengetahuan mengenai postmodernisme. Melalui cerita yang berjenis misteri menambah daya tarik bagi novel ini. Selain itu novel ini lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan teks-teks mengenai postmodernisme, sebut saja “Of Gramatology-nya Derrida. Buku dari Derrida membutuhkan waktu yang lama untuk memahaminya

Lebih lanjut, dalam menuturkan cerita misteri ini kita terus menjelajahi pemikiran-pemikiran postmodernisme lewat tokoh-tokohnya yang terus dipaparkan sepanjang cerita demi menjawab misteri kematian yang terjadi. Tidak lupa diselingi dengan humor-humor kritis cerdas yang menyindir dan sarkastik. Misal, “perkawinan itu modernis, selingkuh itu posmodern” dan “seks telah menjadi tuntutan hormon dan biologis…cuma tubuh-tubuh telanjang yang saling bergesekan”, tentunya terdapat humor lain, namun hal tersebut tergantung pada selera kita masing-masing.

Postmodernisme dapat digunakan dalam suatu hal dan kegiatan tertentu terutama bila berkaitan dengan gugatan terhadap modernitas dan keraguan akan kehidupan yang dijalani. Untuk menemukan dunia yang dibuat oleh pemikirannya di sisa-sisa reruntuhan modernisme. Pada hakikatnya postmodernisme adalah  masalah bertahan hidup di antara sisa-sisa reruntuhan.6 Menurut saya yang perlu kita ketahui saat ini bahwasanya posmodernisme tidak hanya berkutat pada sisi teoritisnya saja, terdapat lingkup lain dari posmodernisme yang dapat kita jelajahi dan nikmati atau tanpa kita sadari sudah kita lakukan atau kita bisa saja telah melihatnya.

Diantara penolakan terhadap metanarasi, ideologi, dan novel

Sebagaimana yang tertuang diatas bahwa posmodernisme menolak adanya metanarasi. Namun dalam novel misteri ini narasi mengenai postmodernisme dicoba untuk dibangun seiring kita membaca novel ini. Walau masih dalam taraf perkenalan. Yang menarik adalah apa yang akan terjadi bila postmodernisme menempatkan dirinya dalam narasi agung yang lain? Barbarisme mungkin (nebak doang).

Lebih lanjut secara ideologis baik pengarang maupun novel ini berusaha untuk memberikan kesadaran mengenai apa yang terjadi terutama untuk menemukan formulasi yang tepat dalam suatu wilayah dengan bermacam latar budaya untuk membentuk budaya dan gaya hidup yang terpengaruh budaya asal namun dengan cita rasa yang berbeda. Selain itu novel ini juga mempertanyakan sikap kita dalam menanggapi hal yang terjadi saat ini. Menurut saya ada tiga pilihan: (1) mempertahankan kapitalisme; (2) bermain-main di sisa reruntuhan modernisme; dan (3) memperjuangkan emansipasi melalui aksi secara bertahap dan berkelanjutan.

Meski hal tersebut tidak disadari oleh pengarangnya sendiri, karena menurutnya ketika seorang pengarang menulis karyanya hal lain yang tidak berkaitan akan menghilang entah kemana, “books disappeared into the void.7 Ia hanya mencoba untuk bersenang-senang dengan memasukan psikoanalis, Marxist, semiotika, dan postmodernisme. Disertai beberapa humor dari pertengahan hingga akhir.

Tentu saja novel misteri ini sangat mudah untuk dibaca serta tidak terlalu sulit untuk dipahami. Pada kenyataannya pengarangnya bukan tokoh postmodernisme, sehingga adalah lumrah bila karyanya bisa lebih tersosialisasikan. Salah satu masalah mengenai postmodernisme adalah kuranganya pemahaman atas pemikiran dari para prominen postmodernime, terlebih mereka tidak tertarik tentang hal tersebut.

Penutup

Postmodernisme telah lama menjadi suatu kebingungan dalam setiap kesempatan diskusi yang telah menjadi buah bibir. Kebingungan yang tidak surut ini perlu untuk diluruskan sehingga dapat sedikit terobati kebingungannya. Novel misteri “Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo” merupakan suatu pengantar mengenai postmodernisme yang bersifat multi-perspektif untuk mengenal postmodernisme, kritik, dan bantahannya mengenai beberapa hal menyangkut modernisme.

Novel ini tidak terlalu berat untuk dicerna sehingga membacanya tidak akan memakan waktu yang lama. Walau bukan karya peraih Pulitzer namun usaha yang diberikan patut untuk diapresiasikan, terutama atas ide dan terobosan, serta upaya untuk menambah wawasan kita. Pada akhirnya ini hanyalah suatu novel.

Terakhir, disertai dengan salam dari Arthur Asa Berger: “good luck with your studies and send my best to your friends who are also reading the book.”

About diannisa

I've never done cruel things or badness. What I do is out for become one who good, a lot of helping people. I am non type one who take a fancy to hypocrisy, dislike, libel and the unrighteous things, as well as liking with too things brighten up. I like with food, its true. But that non something matter which need to lose face or blamed, rite? Just call me foodism. I wish recognized by a many people but really, I dont look for street quickly popularities, I wish they recognize because Im wat Im. Clearly, I love myself by xself, I like by His gift.. Satisfy. Well, it is true not yet enough ( there're no human being enough satisfy), but I out for esteem it. View all posts by diannisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: